Diterbitkan pada: 2026-01-02
JAKARTA, 31 DESEMBER 2025 — Perjanjian perdagangan bebas Indonesia yang baru diformalkan dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) merupakan tonggak penting dalam strategi berkelanjutan Jakarta untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang. EBC Financial Group ("EBC") memandang peristiwa ini sebagai salah satu komponen penting dalam kisah pertumbuhan Indonesia yang lebih luas untuk tahun 2026 dan seterusnya, yang ditandai dengan diversifikasi ekspor, peningkatan kepercayaan investor, dan penguatan kemitraan global strategis.

Ditandatangani selama KTT Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di St. Petersburg, Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU membuka akses tarif preferensial untuk barang-barang Indonesia ke pasar yang terdiri dari sekitar 180 juta konsumen yang tersebar di Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kyrgyzstan, dengan preferensi tarif yang mencakup sekitar 90,5% dari total lini tarif.
"Perjanjian ini lebih dari sekadar jadwal tarif," kata Samuel Hertz, Kepala APAC di EBC. "Ini mencerminkan penyesuaian strategis Indonesia dalam ekonomi global di mana diversifikasi dan akses pasar sangat penting untuk pertumbuhan berkelanjutan."
Perdagangan Indonesia dengan EAEU telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Keterlibatan perdagangan Indonesia dengan EAEU telah menunjukkan momentum yang stabil. Antara Januari dan Oktober 2025, perdagangan dua arah mencapai sekitar 4,4 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia mencapai sekitar 1,76 miliar dolar AS.
Kesepakatan ini meningkatkan daya saing sektor ekspor utama termasuk minyak sawit olahan, produk karet, perikanan, furnitur, tekstil, dan beberapa produk elektronik, sekaligus mendorong eksportir Indonesia untuk bergerak lebih jauh ke rantai nilai. Pada saat pasar ekspor tradisional menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat, analis EBC melihat diversifikasi ke pasar Eurasia sebagai faktor penstabil bagi sektor eksternal Indonesia.
Terlepas dari ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan, kerangka ekonomi Indonesia tetap tangguh. Pertumbuhan global tetap tidak merata, ketegangan geopolitik terus mengganggu arus perdagangan, dan pergeseran ekspektasi suku bunga di antara bank sentral utama memengaruhi pergerakan modal dan kondisi mata uang. Kekuatan-kekuatan ini membentuk lingkungan eksternal bahkan untuk ekonomi dengan fundamental yang kuat.
Dengan latar belakang ini, pertumbuhan Indonesia terus ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, angkatan kerja yang besar dan muda, serta pengelolaan fiskal yang bijaksana. EBC mencatat bahwa kekuatan internal ini membantu melindungi perekonomian dari volatilitas global dan mendukung ekspansi yang stabil bahkan ketika kondisi eksternal tetap berubah-ubah.
Meskipun perjanjian perdagangan menawarkan peluang nyata seperti akses pasar preferensial dan diversifikasi ekspor, mewujudkan manfaat penuhnya akan bergantung pada implementasi yang efektif dan kesiapan sektor swasta. Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso telah menekankan pentingnya memanfaatkan perjanjian tersebut melalui kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan industri sehingga pasar yang baru dibuka dapat diakses secara bermakna oleh para eksportir.
Hambatan eksternal, termasuk ketegangan geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, dan tantangan logistik, tetap menjadi risiko yang relevan. EBC menekankan pentingnya reformasi kebijakan yang terkoordinasi, investasi dalam logistik ekspor, dan dukungan yang tepat sasaran untuk usaha kecil dan menengah guna memastikan kesiapan sisi penawaran untuk perluasan akses pasar.
Strategi ekonomi Indonesia memadukan permintaan domestik yang kuat dengan keterlibatan eksternal yang terdiversifikasi. Strategi ini mencerminkan pendekatan adaptif terhadap lanskap perdagangan global yang terus berkembang. Perjanjian perdagangan EAEU menggarisbawahi sikap proaktif Jakarta dalam menjalin kemitraan di luar pasar tradisional, memperkuat peran Indonesia sebagai pemain kunci dalam perdagangan global sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal.
Penafian: Materi ini hanya untuk informasi dan bukan merupakan rekomendasi atau nasihat dari EBC Financial Group dan semua entitasnya ("EBC"). Perdagangan Forex dan Kontrak untuk Perbedaan (CFD) dengan margin memiliki tingkat risiko yang tinggi dan mungkin tidak cocok untuk semua investor. Kerugian dapat melebihi deposit Anda. Sebelum melakukan perdagangan, Anda harus mempertimbangkan dengan cermat tujuan perdagangan Anda, tingkat pengalaman, dan toleransi risiko, serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen jika perlu. Statistik atau kinerja investasi masa lalu bukanlah jaminan kinerja di masa mendatang. EBC tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat mengandalkan informasi ini.