Diterbitkan pada:
2026-08-19
Diperbarui pada: 2026-08-19
Spoofing dan layering menggunakan order untuk menciptakan gambaran yang menyesatkan tentang minat beli atau jual. Spoofing umumnya melibatkan order yang sejak awal tidak dimaksudkan untuk dieksekusi, sementara layering menggunakan banyak order di berbagai level harga untuk mendistorsi gambaran penawaran atau permintaan. Tantangannya adalah memisahkan manipulasi dari aktivitas trading biasa, sebab pemasangan, perubahan, dan pembatalan order memang lazim terjadi.

Spoofing umumnya melibatkan order yang menipu; dalam hukum kontrak berjangka AS, istilah ini secara spesifik berarti mengajukan penawaran beli atau jual dengan niat membatalkannya sebelum tereksekusi.
Layering menggunakan banyak order umpan (baiting orders) di berbagai level harga untuk menciptakan perubahan buatan pada penawaran atau permintaan yang ditampilkan.
Pembatalan order tidak otomatis berarti manipulasi. Uji hukumnya bergantung pada pasar yang bersangkutan dan perilaku di sekitar order tersebut.
Likuiditas yang ditampilkan hanya menunjukkan order yang tersedia saat itu, bukan jaminan bahwa setiap order yang tercantum akan tetap ada atau tereksekusi.
Spoofing berpusat pada penempatan order yang menipu, sementara layering melibatkan banyak order umpan yang dipasang di berbagai level harga.
Dalam hukum kontrak berjangka AS, spoofing didefinisikan sebagai tindakan mengajukan penawaran beli atau jual dengan niat membatalkannya sebelum tereksekusi. FINRA mendeskripsikan layering di pasar saham sebagai penempatan banyak order pada satu sisi pasar di berbagai harga untuk menciptakan perubahan semu pada penawaran atau permintaan, kemudian mengeksekusi order di sisi berlawanan dan membatalkan order umpan tersebut.
| Spoofing | Layering | |
| Order | Dapat melibatkan satu atau beberapa order yang menipu | Menggunakan banyak order umpan |
| Penempatan | Tidak memerlukan beberapa level harga | Biasanya tersebar di beberapa level harga |
| Dampak | Menciptakan minat atau tekanan pasar yang semu | Menciptakan depth atau penawaran/permintaan yang semu |
| Hasil umum | Order dibatalkan, bukan benar-benar dieksekusi | Transaksi di sisi berlawanan terjadi dan layer dihapus |
Keduanya dapat menyesatkan pelaku pasar mengenai penawaran atau permintaan yang sebenarnya. Perbedaan praktis utamanya terletak pada struktur order bertingkat yang menjadi ciri khas layering.
Pembatalan order menjadi masalah ketika hal itu menjadi bagian dari perilaku yang dilarang oleh aturan yang berlaku di pasar tersebut. Pembatalan itu sendiri merupakan perilaku trading yang wajar.
Untuk kontrak berjangka AS, unsur utama spoofing adalah niat membatalkan order sebelum tereksekusi. CFTC menyatakan bahwa pembatalan atau perubahan order yang sah dan dilakukan dengan itikad baik tidak melanggar ketentuan anti-spoofing. Eksekusi sebagian (partial fill) juga tidak otomatis membuat sebuah order menjadi sah apabila order tersebut sejak awal dipasang dengan niat untuk dibatalkan, bukan untuk benar-benar diperdagangkan.
Kerangka aturan layering untuk pasar saham sedikit berbeda. Aturan FINRA Rule 5210 mengatur pola yang sering terjadi, yaitu banyak order mengubah penawaran atau permintaan yang ditampilkan, kemudian order di sisi berlawanan tereksekusi, dan order awal dibatalkan. Aturan FINRA ini tidak memuat syarat niat eksplisit yang sama seperti ketentuan anti-spoofing dalam hukum kontrak berjangka federal AS.
Tidak ada satu uji hukum tunggal yang berlaku sama di setiap pasar.
Keduanya membuat order book menampilkan minat beli atau jual yang sebenarnya tidak mencerminkan kesediaan nyata untuk bertransaksi. Sebagai contoh, seorang pelaku pasar ingin membeli, sementara beberapa order jual dalam jumlah besar tiba-tiba muncul di atas harga pasar. Tambahan penawaran itu dapat membuat tekanan jual tampak lebih kuat dan mendorong pelaku pasar lain menyesuaikan harga mereka.
Urutan layering dapat terlihat seperti ini:
Layer jual besar muncul → penawaran semu meningkat → order beli di sisi berlawanan tereksekusi → layer jual menghilang
FINRA mendeskripsikan layering sebagai tindakan mengubah minat yang ditampilkan secara buatan, sementara panduan CFTC mengidentifikasi penggunaan banyak order untuk menciptakan depth pasar yang semu sebagai salah satu bentuk spoofing yang mungkin terjadi. Manipulasi ini sudah bekerja sebelum order umpan itu sendiri perlu dieksekusi: keberadaannya saja sudah mengubah informasi yang dilihat pelaku pasar lain.
Regulator membandingkan order, pembatalan, dan eksekusi untuk menentukan apakah perilaku yang mencurigakan membentuk pola yang lebih luas.
Regulator dapat memeriksa ukuran dan waktu order, pembatalan, transaksi di sisi berlawanan, dampak terhadap harga, serta riwayat trading pelaku pasar secara lebih luas. Panduan CFTC secara spesifik menyebutkan bahwa konteks pasar, pola trading, dan karakteristik eksekusi dapat membantu membedakan aktivitas yang sah dari spoofing. Pengawasan FINRA juga melacak urutan order umpan, eksekusi di sisi berlawanan, dan pembatalan yang terkait dengan layering.
Kasus penuntutan terhadap Michael Coscia menunjukkan mengapa pola ini penting. Jaksa menyatakan bahwa program otomatis miliknya memasang order yang memang dimaksudkan untuk dibatalkan guna menciptakan ilusi minat pasar, sementara order lain memperoleh eksekusi. Pada 2015, ia menjadi orang pertama yang divonis bersalah dalam penuntutan federal berdasarkan ketentuan anti-spoofing AS.
Order book hanya menunjukkan minat yang ditampilkan saat ini, bukan jaminan likuiditas di masa depan.
Order beli atau jual dalam jumlah besar dapat menghilang sebelum pelaku pasar lain bertransaksi dengannya, dan hal itu saja tidak membuktikan adanya manipulasi. Limit order sendiri tidak dijamin akan tereksekusi.
Pelajaran yang lebih berguna adalah tidak memperlakukan order besar atau "wall" sebagai bukti pasti arah harga di masa depan. Order book hanya menunjukkan apa yang sedang ditawarkan pada saat itu; order book tidak dapat menunjukkan niat di balik setiap order.
Tidak. Kedua praktik ini saling terkait erat, tetapi layering secara spesifik melibatkan banyak order umpan di berbagai level harga untuk mendistorsi penawaran atau permintaan yang ditampilkan. Spoofing adalah istilah yang lebih luas untuk aktivitas order yang menipu dan memiliki definisi hukum yang spesifik dalam hukum kontrak berjangka AS.
Tidak dengan sendirinya. Berdasarkan aturan kontrak berjangka AS, pembatalan yang sah dan dilakukan dengan itikad baik diperbolehkan. Pertanyaan yang relevan adalah apakah order tersebut sejak awal dipasang dengan niat terlarang untuk dibatalkan sebelum tereksekusi.
Bisa. CFTC menyatakan bahwa eksekusi sebagian (partial fill) tidak otomatis membuat sebuah order terhindar dari klasifikasi sebagai spoofing. Penyidik tetap dapat memeriksa niat awal dan perilaku trading di sekitarnya.
Anda mungkin melihat perilaku order yang tidak biasa, tetapi tampilan order book saja tidak dapat memastikan niat atau membuktikan manipulasi. Regulator dapat memeriksa riwayat order, pembatalan, dan eksekusi yang jauh lebih luas ketika menyelidiki aktivitas yang mencurigakan.
Spoofing dan layering mendistorsi informasi yang disampaikan oleh order. Spoofing dapat melibatkan order yang menipu dan memang dimaksudkan untuk dibatalkan, sementara layering menggunakan banyak order umpan di berbagai level harga untuk menciptakan penawaran atau permintaan yang menyesatkan. Uji hukum yang tepat bergantung pada pasar yang bersangkutan, sehingga satu order yang dibatalkan saja tidak cukup untuk menyebut suatu aktivitas sebagai manipulasi. Yang menentukan adalah perilaku di sekitar order tersebut dan apakah perilaku itu sesuai dengan pola yang dilarang.