2025-07-15
Dalam langkah yang mengejutkan para trader, Bank Sentral Australia (RBA) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,85% pada 8 Juli, yang memicu lonjakan tajam kurs dolar Australia. Pasar secara umum telah memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi nada hawkish RBA mengejutkan banyak pihak dan mendorong kurs AUD/USD melonjak lebih dari 1%, sempat menyentuh level 0,6558.
Keputusan kebijakan moneter yang tak terduga ini menyoroti tantangan yang dihadapi bank sentral dalam menyeimbangkan tekanan inflasi yang masih tinggi, pasar tenaga kerja yang tetap ketat, serta meningkatnya risiko geopolitik—terutama di tengah ancaman tarif baru dari Amerika Serikat.
Keputusan RBA untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah bertentangan dengan konsensus pasar, tetapi sejalan dengan proyeksi Bank of America sebelumnya yang menyatakan bahwa inflasi inti Australia masih berada di kisaran atas target 2-3% bank sentral. Bank tersebut juga menyoroti ketatnya pasar tenaga kerja sebagai alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Setelah pengumuman tersebut, kurs dolar Australia langsung menguat terhadap dolar AS, karena para trader segera menyesuaikan kembali ekspektasi suku bunga. Lonjakan dolar Australia ini mencerminkan keyakinan baru atas komitmen RBA untuk melawan inflasi, sekaligus menggambarkan adanya pergeseran besar dalam dinamika pasar mata uang global.
RBA menyatakan bahwa sebagian besar anggota dewan memilih menunggu data tambahan, terutama terkait tren inflasi dan ketenagakerjaan, sebelum melakukan penyesuaian lebih lanjut. Data inflasi Q2 yang akan dirilis pada 30 Juli mendatang menjadi sinyal penting bagi para trader dan pembuat kebijakan.
Selain faktor domestik, kurs dolar Australia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global, khususnya dari Amerika Serikat. Ancaman tarif baru dari pemerintahan Trump menambah tekanan terhadap perdagangan global, dan Australia termasuk negara yang rentan terhadap dampaknya.
RBA mengakui risiko ini dalam pernyataannya, mencatat bahwa meningkatnya proteksionisme dapat melemahkan permintaan global dan mempersulit lingkungan perdagangan eksternal Australia. Jika tarif AS terhadap mitra dagang utama seperti Tiongkok kembali meningkat, dampaknya terhadap mata uang terkait komoditas seperti AUD bisa cukup signifikan, bahkan berpotensi membalikkan sebagian kenaikan baru-baru ini dicapai.
Sebagai mitra dagang utama Australia, perlambatan atau percepatan ekonomi Tiongkok sangat memengaruhi kurs dolar Australia. Permintaan Tiongkok atas ekspor komoditas seperti bijih besi dan batu bara punya dampak langsung terhadap performa AUD.
Menurut Bank of America, kurs dolar Australia telah diuntungkan dari melemahnya indeks dolar AS tahun ini, namun kenaikan lebih lanjut mungkin bergantung pada percepatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok. Jika Beijing meningkatkan pembangunan infrastruktur atau stimulus pada paruh kedua 2025, AUD bisa mendapatkan dorongan tambahan, terutama di komoditas seperti bijih besi dan batu bara.
Sejauh ini di tahun 2025, kur AUD/USD sudah naik lebih dari 5%, didukung oleh pelemahan dolar AS dan indikator ekonomi Australia yang tetap solid.
Bagi para trader mata uang dan investor makro, beberapa minggu ke depan menjadi periode krusial. Dua peristiwa penting yang kemungkinan besar akan menentukan arah pergerakan AUD:
Perkembangan kebijakan tarif Trump, yang bisa mengguncang sentimen risiko dan arus perdagangan global.
Laporan inflasi Q2 Australia pada 30 Juli, yang akan memperjelas apakah RBA memiliki ruang untuk memangkas suku bunga akhir tahun ini.
Jika inflasi tetap tinggi, RBA kemungkinan tetap hawkish, menopang kurs dolar Australia. Sebaliknya, jika tekanan inflasi mereda, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa kembali muncul, yang akan melemahkan AUD.
Lonjakan kurs dolar Australia baru-baru ini setelah keputusan mengejutkan RBA ymencerminkan perubahan sentimen di pasar valuta asing dan menegaskan pentingnya kredibilitas bank sentral. Namun, mempertahankan momentum ini akan bergantung pada berbagai faktor kompleks dan saling terkait—termasuk inflasi domestik, kekuatan pasar tenaga kerja, performa ekonomi Tiongkok, dan perkembangan geopolitik, terutama di AS.
Meski AUD telah mencatatkan comeback impresif di 2025, investor dan trader perlu tetap waspada. Pasar tetap volatile, dan dengan sejumlah risiko besar di depan mata, arah AUD ke depan masih penuh ketidakpastian.
Untuk saat ini, AUD masih menikmati penguatan—namun seperti biasa di pasar forex, satu rilis data atau berita utama bisa langsung mengubah arah pasar.
Penafian: Materi ini hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan (dan tidak boleh dianggap sebagai) nasihat keuangan, investasi, atau nasihat lain yang dapat diandalkan. Pendapat yang diberikan dalam materi ini tidak merupakan rekomendasi dari EBC atau penulis bahwa investasi, sekuritas, transaksi, atau strategi investasi tertentu cocok untuk orang tertentu.