Rumah Tangga Indonesia Diperkirakan Memegang 1,800 Ton Emas. Bank Indonesia Memegang 87
English ภาษาไทย Español Português 한국어 简体中文 繁體中文 日本語 Tiếng Việt Монгол ئۇيغۇر تىلى العربية Русский हिन्दी

Rumah Tangga Indonesia Diperkirakan Memegang 1,800 Ton Emas. Bank Indonesia Memegang 87

Diterbitkan pada: 2026-08-03

  • Rumah tangga Indonesia diperkirakan memiliki 1.800 ton emas dalam bentuk perhiasan dan batangan kecil, menurut Menteri BUMN Erick Thohir saat peluncuran bank emas (bullion bank) pada Februari 2025. Jumlah ini 20,7 kali lebih besar dibandingkan cadangan emas moneter Bank Indonesia sebesar 87,04 ton.

  • Bank Indonesia menambah cadangan emasnya sebanyak 2 ton pada kuartal pertama 2026, menurut data World Gold Council, sembari menggelontorkan US$8,3 miliar untuk menjaga rupiah. Sebagai perbandingan, Turki dan Rusia bersama-sama menjual 101 ton emas pada periode yang sama.

  • Sistem bank emas milik negara yang dijalankan Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) mengumpulkan sekitar 153 ton emas senilai hampir US$20 miliar dalam 17 bulan pertama operasinya, menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 14 Juli. Jumlah nasabah meningkat dari 3,2 juta menjadi 5,6 juta dalam 12 bulan.

  • Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia naik sekitar 40% secara tahunan (yoy) menjadi sekitar 15 ton pada kuartal kedua, meski harga emas turun 6,41% sepanjang 2026, menurut laporan World Gold Council pada 31 Juli. Rilis data cadangan devisa akhir Juli sekitar 6 Agustus dan pencatatan ETF emas pertama Indonesia pada 10 Agustus diperkirakan menjadi peristiwa pasar utama berikutnya.


Emas yang dipegang rumah tangga Indonesia bernilai sekitar US$234 miliar, berdasarkan harga 31 Juli sebesar US$4.042,97 per troy ounce dan estimasi pemerintah atas 1.800 ton emas milik pribadi. Cadangan emas Bank Indonesia mencapai 87,04 ton, senilai sekitar US$11,3 miliar, sementara total cadangan devisa resmi tercatat US$145,6 miliar pada akhir Juni. Sebagian besar tabungan nasional berada di luar bank sentral.


Cadangan devisa resmi turun selama lima bulan berturut-turut hingga Mei, seiring Bank Indonesia menjual dolar untuk menahan pelemahan rupiah yang sempat berada di level terendah sepanjang masa. Permintaan rumah tangga justru bergerak ke arah berlawanan. Pembelian emas batangan dan koin menguat sepanjang kuartal kedua, meski harga emas turun dari rekor tertinggi yang tercapai sebelumnya di tahun ini.

Tiga lapisan cadangan emas Indonesia

Cadangan Emas Indonesia dalam Tiga Lapisan: 87, 153, dan 1.800 Ton

Cadangan emas Indonesia terstruktur dalam tiga lapisan: 87,04 ton emas moneter di Bank Indonesia, sekitar 153 ton dalam sistem bank emas milik negara, dan estimasi 1.800 ton yang dipegang secara pribadi oleh rumah tangga. Estimasi rumah tangga ini didasarkan pada pernyataan Thohir saat peluncuran bank emas pada Februari 2025 dan sebaiknya dipandang sebagai estimasi pemerintah, bukan angka yang telah diaudit.


Lapisan Dipegang atau dikelola oleh Emas (ton) Nilai pada US$4.042,97 per oz, 31 Juli 2026 Arah pergerakan pada 2026
Emas moneter Bank Indonesia 87,04 Sekitar US$11,3 miliar Naik 2 ton pada Q1
Sistem bank emas negara Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia Sekitar 153 Hampir US$20 miliar Nasabah meningkat dari 3,2 juta menjadi 5,6 juta
Kepemilikan rumah tangga Individu pribadi, estimasi pemerintah Sekitar 1.800 Sekitar US$234 miliar Permintaan emas batangan dan koin naik 47% pada Q1 dan 40% pada Q2

Sumber: World Gold Council, Bank Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pernyataan Kementerian BUMN pada 26 Februari 2025. Nilai dolar merupakan kalkulasi EBC berdasarkan penutupan harga 31 Juli.


Valuasi US$234 miliar tersebut dihitung dengan mengonversi 1.800 ton menjadi sekitar 57,9 juta troy ounce, lalu dikalikan dengan harga penutupan 31 Juli. Bahkan jika dipotong sepertiga, kepemilikan emas rumah tangga tetap akan melampaui total cadangan devisa Indonesia sebesar US$145,6 miliar. Stok emas milik pribadi 20,7 kali lebih besar dibandingkan cadangan Bank Indonesia sebesar 87,04 ton.


Thohir juga pernah menyebut angka 201 ton cadangan emas batangan nasional yang tersebar di Bank Indonesia, Pegadaian, dan Bank Syariah Indonesia (BSI), angka yang ia bandingkan dengan cadangan Singapura sebesar 228 ton. Metrik ini mencakup rentang emas batangan terkait negara yang lebih luas dan berbeda dari emas moneter yang dilaporkan Bank Indonesia ke IMF. Kedua angka ini tidak boleh digabungkan.


Bank Indonesia Membeli 2 Ton Emas Sambil Menggelontorkan US$8,3 Miliar untuk Rupiah

Bank Indonesia menambah kepemilikan emasnya sebanyak 2 ton pada kuartal pertama 2026, sehingga cadangan emas moneternya naik dari 85,53 ton menjadi 87,04 ton, menurut data World Gold Council. Pembelian ini setara 0,8% dari total 244 ton yang diakuisisi bank sentral di seluruh dunia pada periode tersebut. Akuisisi ini terjadi saat cadangan devisa resmi turun US$8,3 miliar akibat intervensi pasar dan pembayaran utang luar negeri. Dengan menambah emas, Bank Indonesia memperkuat cadangannya dengan aset yang tidak memiliki risiko kredit pihak lawan (counterparty risk).


Bank sentral Turki menjual 79 ton emas pada kuartal yang sama untuk menopang lira, sementara Rusia menjual 22 ton, menurut Kepala Asia-Pasifik WGC, Shaokai Fan, dalam laporan kuartal pertama. Fan mencatat bahwa bank sentral yang melakukan intervensi di pasar valuta asing sering kali mengurangi aset cadangan dan membatasi kemampuan mereka untuk melakukan diversifikasi ke emas. Namun, Bank Indonesia tetap membeli emas, turut menyumbang pada sektor resmi yang telah menambah lebih dari 1.000 ton emas per tahun selama tiga tahun berturut-turut.


Cadangan devisa mencapai titik terendah US$144,9 miliar pada Mei, level terendah sejak Juni 2024, sebelum naik US$700 juta menjadi US$145,6 miliar pada Juni karena penerimaan pajak dan jasa. Ini merupakan kenaikan bulanan pertama pada 2026. Namun, angka ini belum mencerminkan biaya penuh dari upaya menjaga nilai tukar: posisi short bersih Bank Indonesia di pasar forward valuta mencapai hampir US$27 miliar pada akhir Mei. Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa akan mencukupi 4,9 bulan pembayaran eksternal pada 2026, sedikit di bawah median 5,0 bulan untuk negara berperingkat BBB.


Sistem Bank Emas Mencapai 153 Ton dan 5,6 Juta Nasabah dalam 17 Bulan

Sistem bank emas Indonesia, yang menerima simpanan, menyalurkan pembiayaan, dan memperdagangkan emas fisik dengan cara yang mirip bank konvensional memperlakukan mata uang, mengelola sekitar 153 ton emas senilai hampir US$20 miliar setelah 17 bulan beroperasi, menurut Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan pada 14 Juli. Sistem ini diluncurkan pada 26 Februari 2025 melalui Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Menteri Koordinator Airlangga Hartarto kembali menyampaikan angka ini kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet pada 20 Juli.


Jumlah rekening nasabah dalam sistem ini meningkat dari 3,2 juta menjadi 5,6 juta dalam 12 bulan, sementara saldo tabungan emas hampir dua kali lipat dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton. BSI sendiri membuka lebih dari satu juta rekening emas dalam sekitar 13 bulan, dengan pembelian mulai dari Rp50.000, atau sekitar US$3. Menurut laporan World Gold Council pada 31 Juli, Fan menyatakan bahwa investor Indonesia kini memandang emas sebagai aset strategis jangka panjang akibat pelemahan rupiah dan ketidakpastian kondisi domestik.


Tujuan utama saat peluncuran bersifat moneter: menahan emas di dalam negeri, diproses dan disimpan secara domestik, sehingga menghemat cadangan devisa dan mendukung stabilitas keuangan. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, menyatakan bahwa sistem bank emas ini dapat mengurangi kebutuhan mengimpor produk emas yang disertifikasi di luar negeri. Sistem bank emas ini secara efektif menjalankan kebijakan cadangan melalui neraca keuangan rumah tangga.


Impor Emas Batangan Tumbuh 29,1% per Tahun Selama Satu Dekade, Sistem Ini Hadir untuk Memutus Lingkaran Itu

Impor emas batangan Indonesia naik dengan rata-rata 29,1% per tahun dari 2016 hingga 2025, menurut analis lembaga pembiayaan OJK, Iwan Partogi, dalam seminar bank emas di Jakarta pada 7 Mei. Pada 2025, sekitar 89% impor emas berasal dari lima negara: Australia, Hong Kong, Singapura, Jepang, dan Swiss. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor emas sebanyak 2,5 ton senilai US$377,2 juta hanya pada April 2026, dengan Australia menyumbang 52,8% dari total tersebut.


Lingkaran ini saling memperkuat diri: tekanan pada mata uang mendorong rumah tangga membeli emas batangan, yang dipasok dari pemurni (refiner) asing karena emas kelas investasi Indonesia selama ini disertifikasi dan diproses di luar negeri. Beban impor yang timbul kemudian semakin membebani akun eksternal, sehingga melanggengkan lingkaran tersebut. Meski Indonesia adalah produsen emas terbesar di Asia Tenggara, ketergantungan pada emas batangan impor mencerminkan kesenjangan kapasitas pengolahan, bukan kekurangan sumber daya.


Sistem bank emas adalah strategi Jakarta untuk memutus lingkaran ini dengan mengedarkan kembali emas yang sudah ada di dalam negeri. Setiap ton yang disimpan di Pegadaian atau BSI dapat mendukung pembiayaan, perdagangan, dan jaminan tanpa memerlukan impor baru. Jika bahkan sebagian dari estimasi 1.800 ton yang dipegang rumah tangga masuk ke sistem formal, permintaan yang saat ini dipenuhi oleh pemurni asing dapat dipenuhi dari cadangan domestik.


Rilis Cadangan Devisa 6 Agustus dan ETF Emas 10 Agustus Jadi Dua Ujian Berikutnya

Bank Indonesia akan merilis data cadangan devisa akhir Juli sekitar 6 Agustus, yang akan menjadi indikasi awal apakah pemulihan US$700 juta pada Juni bertahan melewati satu bulan intervensi lagi. Empat hari kemudian, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencatatkan dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund atau ETF) emas pertama negara ini pada 10 Agustus, bertepatan dengan peringatan ke-49 pasar modal Indonesia. OJK telah menerbitkan aturan ETF sebagai bagian dari peta jalan (roadmap) bank emas 2026 hingga 2031.


Struktur ETF ini lebih penting dibandingkan ukuran awalnya. Dana yang didukung oleh emas yang disimpan dan diolah di dalam negeri akan mengarahkan permintaan investasi baru ke emas yang sudah berada di dalam negeri, sehingga mengurangi kebutuhan impor. Jika permintaan emas batangan dan koin tetap berada di kisaran 15 ton per kuartal seperti tercatat pada Q2, data impor bulanan BPS akan menjadi indikator terbaik apakah sirkulasi ulang benar-benar menggantikan impor. Jika cadangan devisa terus menurun sementara permintaan emas meningkat, lingkaran ini belum terputus dan tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut.


Kata Penutup

Cadangan emas Indonesia kini dipantau melalui tiga metrik: data cadangan devisa bulanan, angka permintaan kuartalan dari World Gold Council, dan tonase yang terus bertambah dalam sistem bank emas. Estimasi 1.800 ton yang dipegang rumah tangga berfungsi sebagai cadangan bayangan yang dapat diukur oleh negara namun tidak dapat diakses secara langsung. Sejak Februari 2025, upaya kebijakan berfokus pada mengintegrasikan emas milik pribadi ini ke dalam sistem formal.


Bagi trader yang memantau USD/IDR, program ini merupakan variabel yang bergerak perlahan namun berdampak signifikan: setiap ton yang berpindah dari kepemilikan pribadi ke brankas Pegadaian mengurangi kebutuhan impor dan memberi sedikit ruang bagi bank sentral yang memegang posisi short forward hampir US$27 miliar. Pertanyaan kunci untuk 2026 adalah apakah Jakarta dapat mengonversi emas milik pribadi menjadi stabilitas publik lebih cepat dibandingkan tekanan mata uang menggerus cadangan publik.

Penafian: Materi ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai (serta tidak boleh dianggap sebagai) nasihat keuangan, investasi, atau bentuk nasihat lainnya yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Pendapat apa pun yang disampaikan dalam materi ini tidak merupakan rekomendasi dari EBC atau penulis bahwa investasi, instrumen, transaksi, atau strategi investasi tertentu sesuai untuk individu tertentu.