Harga Minyak Melonjak, Saham Anjlok Akibat Konflik AS-Iran: Bisakah $100 Kembali?
English 简体中文 繁體中文 한국어 日本語 ภาษาไทย Español Português Русский Tiếng Việt Монгол ئۇيغۇر تىلى العربية हिन्दी

Harga Minyak Melonjak, Saham Anjlok Akibat Konflik AS-Iran: Bisakah $100 Kembali?

Penulis: Rylan Chase

Diterbitkan pada: 2026-03-02

Minyak membuka pekan dengan premi perang, sementara saham dibuka dengan diskon risiko.


Setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran sepanjang akhir pekan, harga minyak melonjak pada perdagangan awal Senin karena pasar memperhitungkan risiko terganggunya aliran melalui Selat Hormuz, titik penyempitan utama bagi pengiriman energi global.

Harga Minyak Melonjak, Saham Turun akibat Konflik AS-Iran

Brent melonjak hingga 13% pada perdagangan awal dan sempat diperdagangkan mendekati $82 per barel, sementara minyak mentah AS juga naik tajam. Pada saat yang sama, pasar saham menjadi defensif. Nikkei di Jepang turun sekitar 2.4%, sedangkan futures saham AS turun lebih dari 1%. Investor beralih ke aset aman seperti emas.


Pertanyaan besarnya adalah apakah kejutan ini dapat mendorong harga minyak kembali ke $100. Jawaban jujurnya: $100 mungkin terjadi, tetapi itu memerlukan gangguan nyata, bukan sekadar ketakutan.


Apa yang Terjadi Sepanjang Akhir Pekan?

Konflik AS-Iran Meningkat dan Risiko Pengiriman Melonjak

Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal tanker, dan lalu lintas laut menurun seiring memburuknya situasi. Beberapa perusahaan pelayaran menghentikan transit melalui jalur-jalur penting karena kekhawatiran keamanan. 


Hal itu penting karena pasar tidak membutuhkan penutupan total untuk panik. Bahkan gangguan sebagian, kenaikan biaya asuransi, atau lebih sedikit kapal yang bersedia berlayar dapat memperketat pasokan efektif.


Mengapa Selat Hormuz Menjadi Titik Tekan Pasar

Selat Hormuz adalah jalur sempit yang terletak antara Oman dan Iran, berfungsi sebagai saluran krusial untuk pasokan energi global.


US Energy Information Administration memperkirakan aliran minyak melalui selat itu rata-rata sekitar 20 juta barel per hari pada 2024, yang kira-kira sebesar 20% dari konsumsi cairan minyak bumi global. 


Ketika pedagang mendengar "risiko Hormuz", mereka tidak hanya berpikir tentang Iran. Mereka berpikir tentang kemampuan fisik Teluk untuk mengekspor sama sekali.


Apa yang Terjadi Hari Ini di Pasar

Aksi harga menunjukkan bahwa para pedagang khawatir tentang logistik dan pengiriman, bukan hanya barel "di atas kertas."

Pasar Pergerakan terbaru (perdagangan awal)
Minyak mentah WTI Sekitar $71.6–$72.0, naik sekitar 7%
Minyak Brent Sekitar $78.3–$78.6, naik sekitar 7%–8%
Lonjakan intraday Brent Hingga $82, naik sampai 13%
Futures saham AS Turun sekitar 1% di seluruh indeks utama
Saham Jepang Turun sekitar 2.4% (Nikkei)
Emas Naik sekitar 2%–3%

Mengapa Harga Minyak Melonjak?

Harga Minyak Melonjak, Saham Turun akibat Konflik AS-Iran

Harga minyak melonjak karena para pedagang memperhitungkan tiga lapis risiko secara bersamaan.


1) Risiko Gangguan Pasokan Fisik Meningkat dalam Satu Siklus Berita

Ketika jalur pengiriman terancam, ketersediaan di pasar dapat menurun meskipun produksi tetap tidak berubah.

  • Lebih sedikit kapal tanker yang berlayar.

  • Jadwal kargo tertunda.

  • Penyuling membayar lebih untuk mengamankan pengiriman barel segera.

  • Para pedagang menaikkan harga kontrak berjangka jangka pendek terlebih dahulu.


Risiko perang biasanya muncul sebagai pergerakan yang lebih cepat di bagian depan kurva.


2) Pasar Bereaksi terhadap Titik Penyempitan, Bukan pada Satu Lapangan Minyak

Peran Iran penting, tetapi titik penyempitan itu lebih luas daripada Iran.


Jika aliran melalui Hormuz terganggu, risikonya meluas ke beberapa produsen Teluk dan kargo LNG, bukan hanya barel Iran. 


3) Risiko Ekspor Iran Menambah Lapisan Ketidakpastian Lainnya

Kekhawatiran tentang ekspor harian Iran sekitar 1.6 juta barel per hari, sebagian besar ke China. 


Bahkan jika barel-barel tersebut tidak sepenuhnya hilang, penegakan yang lebih ketat, masalah pembayaran, atau gangguan logistik dapat membuatnya kurang dapat diandalkan, dan pasar menghargai keandalan.


Mengapa Saham Global Turun pada Saat yang Sama

Harga Minyak Melonjak, Saham Turun akibat Konflik AS-Iran

Saham sering turun ketika harga minyak melonjak karena alasan sederhana: harga minyak yang lebih tinggi bisa terasa seperti pajak terhadap pertumbuhan.


Risiko Inflasi Meningkat

Harga energi yang lebih tinggi bisa menyerap biaya transportasi dan tagihan konsumen, yang membuat inflasi lebih sulit turun secara mulus.


Harapan Pemangkasan Suku Bunga Tertunda

Jika risiko inflasi meningkat, pasar cenderung memperhitungkan pemotongan The Fed yang lebih sedikit atau lebih lambat, dan itu mendorong imbal hasil.


Margin Laba Tertekan

Kenaikan biaya bahan bakar dan pengiriman dapat menggerogoti margin laba maskapai, perusahaan logistik, dan beberapa sektor ritel tertentu.


Itulah sebabnya guncangan minyak sering memicu aksi "risk-off" yang luas, bahkan sebelum ada yang tahu berapa lama konflik akan berlangsung.


Bisakah Harga Minyak Kembali ke $100? Jawaban Singkat dan Pemicu Nyata

Harga Minyak Melonjak, Saham Turun akibat Konflik AS-Iran

Ya, $100 bisa kembali, tetapi biasanya memerlukan salah satu kondisi berikut berlangsung lebih dari satu atau dua hari.


1. Gangguan Pelayaran Berkelanjutan di Selat Hormuz

Jika tanker menghindari jalur tersebut selama berminggu-minggu, dampaknya bisa menjadi masalah pasokan bagi importir, terutama di Asia, bahkan tanpa kerusakan langsung pada fasilitas minyak.


2. Kerusakan Langsung pada Infrastruktur Produksi atau Ekspor 

Analis memperingatkan bahwa jika seseorang menargetkan infrastruktur minyak Iran dan berdampak pada pasokan, harga minyak bisa naik menuju $100. Ini sebagian karena meningkatnya kemungkinan upaya untuk mengganggu rute pelayaran.


3. Dampak Regional yang Lebih Luas yang Menambah Risiko Pasokan di Luar Iran

Bahkan jika produksi tetap utuh, pasar dapat memperhitungkan $100 jika percaya konflik bisa melibatkan lebih banyak aktor dan menciptakan insiden pelayaran berulang.


4. Lingkaran Umpan Balik Inflasi dan Suku Bunga

Jika harga minyak tetap tinggi, ekspektasi inflasi akan naik, memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk periode yang lebih lama. Itu dapat menjaga premi risiko tetap hidup karena pasar sudah memperhitungkan ekonomi yang melambat dan biaya yang lebih tinggi.


Tabel Skenario: Bagaimana Kembalinya Harga Minyak ke $100 Menjadi Realistis, dan Bagaimana Tidak

Skenario Apa yang terjadi di dunia nyata Jalur harga minyak yang mungkin Reaksi pasar saham
De-eskalasi cepat Serangan berhenti, pelayaran berlanjut dengan gangguan terbatas, dan retorika mereda. Minyak mengembalikan sebagian lonjakan dan diperdagangkan dengan premi risiko yang lebih kecil dan memudar. Saham stabil karena ketakutan inflasi mereda dan selera risiko kembali.
Konflik terbatas, biaya asuransi lebih tinggi Tidak ada kerusakan infrastruktur besar, tetapi kapal melambat, mengubah rute, atau membayar biaya asuransi yang jauh lebih tinggi.

Minyak mempertahankan
premi sedang

Saham tetap berfluktuasi
Gangguan berkepanjangan di dekat Hormuz Insiden berulang menjaga arus tetap terkendala selama beberapa hari atau minggu, dan lalu lintas tanker menjadi tidak konsisten. Minyak dapat naik menuju kisaran atas $80-an dan berpotensi menguji $100 jika gangguan berlanjut. Saham turun lebih jauh karena risiko resesi dan inflasi meningkat bersamaan, dan saham defensif mengungguli.
Serangan langsung pada infrastruktur minyak Kapasitas produksi atau ekspor terganggu sedemikian rupa sehingga tidak cepat diperbaiki, dan barel fisik menghilang dari pasar. $100 menjadi realistis dengan cepat karena kejutan pasokan nyata, bukan sekadar ketakutan. Aset berisiko dijual secara luas, dan sektor energi seringkali berkinerja lebih baik saat pasar merepriskan arus kas dan risiko inflasi.


Apa yang Perlu Diwaspadai Selama 72 Jam ke Depan

  1. Pemberitahuan pelayaran dan tarif asuransi, karena mereka menunjukkan apakah gangguan menjadi bersifat operasional.

  2. Laporan insiden yang terverifikasi di sekitar Oman dan UEA, karena kejadian berulang dapat menjaga arus lalu lintas rendah.

  3. Respons resmi dari negara-negara Teluk diperlukan karena eskalasi regional dapat dengan cepat mengubah lanskap pasokan.

  4. Pesan dari OPEC+, karena pasar akan menguji apakah tambahan barel kredibel dan dapat dikirim.


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa Harga Minyak Naik Lagi?

Harga minyak melonjak karena konflik AS–Iran meningkatkan risiko gangguan di Selat Hormuz. Titik sempit ini mengangkut sekitar 20 juta barel per hari, yang menyumbang sekitar 20% dari konsumsi cairan minyak bumi global.


Mengapa Saham Turun Saat Minyak Naik?

Saham turun karena harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan risiko inflasi, mengancam margin keuntungan, dan dapat menunda ekspektasi penurunan suku bunga. Kontrak berjangka AS dan saham Asia turun karena investor mencari aset aman. 


Bisakah Harga Minyak Mencapai $100 Lagi?

Ya, tetapi kemungkinan membutuhkan gangguan berkelanjutan pada pelayaran Selat Hormuz atau kehilangan pasokan yang signifikan. Komentar pasar sudah menyebut bahwa $100 adalah target yang masuk akal jika gangguan berlanjut.


Kesimpulan

Singkatnya, harga minyak melonjak karena pasar membayar premi risiko bahwa salah satu jalur energi paling penting di dunia menjadi tidak dapat diandalkan, meskipun hanya sementara. 


Saham turun karena harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan risiko inflasi dan mengetatkan kondisi keuangan, yang merupakan kombinasi sulit bagi pertumbuhan dan permintaan konsumen. 


Kembali ke $100 bukanlah skenario dasar, tetapi mungkin jika gangguan pelayaran terus berlanjut atau jika infrastruktur minyak menjadi sasaran. Jika aliran pasokan kembali normal dengan cepat, pasar masih bisa mempertahankan premi risiko yang lebih kecil, tetapi lonjakan kemungkinan akan memudar.


Penafian: Materi ini hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai (dan tidak boleh dianggap sebagai) nasihat keuangan, investasi, atau nasihat lain yang dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan. Tidak ada opini yang diberikan dalam materi ini yang merupakan rekomendasi oleh EBC atau penulis bahwa investasi, sekuritas, transaksi, atau strategi investasi tertentu cocok untuk orang tertentu.