Mengapa Peso Filipina Berada di Titik Terendah Sepanjang Sejarah Meskipun Bank Sentral Filipina (BSP) Menaikkan Level?
English ภาษาไทย Español Português 한국어 简体中文 繁體中文 日本語 Tiếng Việt Монгол ئۇيغۇر تىلى العربية Русский हिन्दी

Mengapa Peso Filipina Berada di Titik Terendah Sepanjang Sejarah Meskipun Bank Sentral Filipina (BSP) Menaikkan Level?

Penulis: Charon N.

Diterbitkan pada: 2026-09-03

  • Empat kali penutupan rekor beruntun. Peso telah melemah 6,03% terhadap dolar AS sejak Desember.

  • Suku bunga acuan berada di 5,00%. Inflasi Juli tercatat 6,2%. Selisih antara kedua angka ini menjelaskan lebih banyak dibandingkan kenaikan suku bunga itu sendiri.

  • Minyak adalah jalur tercepat. Brent yang mendekati US$ 95 hampir seketika berubah menjadi permintaan dolar di Manila.

  • Neraca eksternal bergerak lebih lambat. Defisit transaksi berjalan kuartal I sebesar 4,8% dari PDB menciptakan permintaan dolar yang tidak bisa dimatikan oleh keputusan suku bunga mana pun.

  • Bukan krisis. Cadangan devisa sebesar US$ 103,32 miliar masih mencukupi kebutuhan impor selama 6,7 bulan, meski arah trennya mengkhawatirkan.

  • Yang bisa membalikkan tren ini adalah sejumlah syarat, bukan sekadar proyeksi. Tujuh kondisi tersebut diuraikan di bagian akhir.


Peso Filipina jatuh ke level rekor 62,652 per dolar AS dalam perdagangan internasional pada 2 September 2026. Di pasar domestik, mata uang ini sempat menyentuh level terendah intraday di 62,69 dan ditutup di posisi terlemah sepanjang masa 62,565, penutupan rekor keempat secara berturut-turut.


Pelemahan ini terjadi enam hari setelah Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,00%, kenaikan ketiga sejak April. Suku bunga domestik yang lebih tinggi ternyata belum mampu menstabilkan nilai tukar.

Mengapa peso Filipina berada di level terendah rekor

Ada tiga tekanan yang menjelaskan ketidaksesuaian ini: harga minyak mentah yang mendekati US$ 95 per barel, neraca eksternal yang terus menyedot dolar AS keluar dari negara ini, dan imbal hasil obligasi AS yang mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.


Mengapa Peso Filipina Menyentuh Level Terendah Rekor?

Faktor energi menjadi penyebab utama pelemahan ini. Harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$ 94,86 per barel pada 2 September, naik sekitar 13% dalam sebulan, setelah serangan baru antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasokan di sekitar Selat Hormuz. 

grafik pergerakan nilai tukar peso Filipina (PHP) terhadap dolar AS (USD)

Filipina mengimpor hampir seluruh minyak mentah yang digunakannya, sehingga setiap kenaikan harga langsung berubah menjadi tambahan permintaan dolar AS dari kilang, produsen listrik, dan distributor bahan bakar dalam negeri.


Indikator Data Terbaru Alasan Menekan Peso
Kurs penutupan USD/PHP, 2 September 62,565 Penutupan rekor keempat berturut-turut
Suku bunga acuan BSP 5,00% Kenaikan ketiga sejak April, akumulasi 75 basis poin
Inflasi headline Juli 6,2% Berada di atas suku bunga acuan
Transaksi berjalan kuartal I 2026 -4,8% dari PDB Permintaan dolar yang bersifat struktural
Minyak mentah Brent ~US$ 94,86/barel Naik ~13% dalam sebulan
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun 4,81% intraday Tertinggi sejak November 2023


Sisi dolar AS juga tidak membantu. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,814% secara intraday pada 2 September, level tertinggi sejak November 2023, sebelum akhirnya turun ke kisaran 4,79%. 


Pasar kontrak berjangka kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15 hingga 16 September, naik dari sekitar 37% sepekan sebelumnya. Imbal hasil AS yang lebih tinggi mempersempit keunggulan suku bunga relatif peso dan menarik modal ke aset berdenominasi dolar.


Tekanan ini dirasakan secara luas di kawasan Asia berkembang, namun obligasi Filipina mengalami pukulan yang lebih berat. Obligasi acuan tenor 10 tahun di pasar domestik telah kehilangan sekitar 23,6% dari sisi harga sepanjang tahun ini, menurut data yang dihimpun LSEG. Peso kini telah melemah 6,03% terhadap dolar AS sejak ditutup di 58,79 pada 29 Desember 2025.


Mengapa Kenaikan Suku Bunga BSP Belum Mampu Menghentikan Pelemahan Peso?

Menaikkan suku bunga acuan tidak secara otomatis mengangkat nilai tukar. Yang diperhitungkan investor adalah imbal hasil riil setelah inflasi, arah kebijakan yang diperkirakan di kedua sisi transaksi, serta berapa banyak peso yang harus dijual perekonomian untuk membayar impornya.


Dari sisi pertama, hitungannya kurang menguntungkan. Suku bunga acuan berada di 5,00%, sementara inflasi headline Juli mencapai 6,2%, dengan inflasi inti di 4,2%. Pasar sebenarnya memperdagangkan ekspektasi inflasi, bukan inflasi yang sudah terealisasi, namun proyeksi ke depan pun tidak banyak memberi kelegaan. 


Proyeksi BSP sendiri menempatkan inflasi 2026 di 6,1% dan 2027 di 5,4%, keduanya berada di atas kisaran target 2% hingga 4%. Analis Maybank menyebut kombinasi suku bunga riil yang rendah dan posisi eksternal yang kurang menguntungkan inilah yang menjelaskan kinerja peso yang lesu.


Panduan kebijakan BSP turut memperburuk keadaan. Kenaikan suku bunga pada 27 Agustus dibaca sebagai sinyal dovish setelah Gubernur Eli Remolona menyatakan harapannya agar pengetatan lebih lanjut tidak lagi diperlukan, tepat ketika ekspektasi suku bunga AS justru bergerak ke arah sebaliknya. Kenaikan suku bunga yang disertai sinyal bahwa siklusnya hampir berakhir hanya menawarkan daya tarik carry yang terbatas.


Bank sentral tetap hadir di pasar. BSP melakukan intervensi untuk mengatasi kondisi pasar yang tidak teratur dan meredam volatilitas ekstrem, bukan untuk mempertahankan level tertentu. Remolona secara terus terang mengakui batasan ini: BSP bisa memperlambat pelemahan peso, tetapi tidak bisa mematok nilai tukar tanpa menguras cadangan devisa.


Mengapa Kenaikan Harga Minyak Begitu Penting bagi Peso?

Jalur transmisinya cukup langsung. Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan nilai tagihan impor. Importir kemudian membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk melunasi volume kargo yang sama, sehingga menambah permintaan dolar yang stabil dan tidak sensitif terhadap harga di pasar spot domestik.


Permintaan ini memperlebar defisit neraca perdagangan barang, faktor penekan terbesar bagi transaksi berjalan. Filipina mencatat defisit transaksi berjalan setara 4,8% dari PDB pada kuartal I 2026, dan neraca pembayaran kembali mencatat defisit US$ 1,47 miliar pada Juli seiring berlanjutnya arus keluar dana terkait impor dan pembayaran utang luar negeri.


Pelemahan peso kemudian menaikkan biaya lokal untuk energi impor yang sama. Bahan bakar memengaruhi biaya transportasi, listrik, dan distribusi pangan, sehingga inflasi sektor transportasi masih tercatat 11,9% pada Juli setelah tiga bulan berturut-turut mengalami disinflasi. 


Inflasi impor ini memperkuat alasan untuk pengetatan lebih lanjut, yang pada gilirannya membebani pertumbuhan ekonomi dan, seperti terlihat dalam episode ini, tidak memberi jaminan apa pun bagi nilai tukar.


Apakah Filipina Menghadapi Krisis Mata Uang?

Nilai tukar nominal yang mencatat rekor bukan dengan sendirinya berarti krisis mata uang. Peso menganut sistem mengambang bebas. Tidak ada patokan kurs tetap yang bisa jebol dan tidak ada level tertentu yang secara resmi berkomitmen dipertahankan BSP. Tekanan yang sesungguhnya akan terlihat dari ketidakmampuan membiayai kewajiban eksternal, bukan dari rentetan penutupan rekor.


Bantalan (buffer) yang dimiliki Filipina masih utuh. Cadangan devisa bruto tercatat US$ 103,32 miliar pada akhir Juli, setara dengan kebutuhan impor selama 6,7 bulan dan sekitar 3,7 kali utang luar negeri jangka pendek berdasarkan sisa jatuh tempo. Remitansi perorangan mencapai US$ 19,12 miliar pada semester pertama, naik 2,4% secara tahunan, ditopang pula oleh pendapatan sektor business process outsourcing dan pariwisata yang terus berlanjut.


Yang perlu dicermati adalah arah pergerakannya. Cadangan devisa berada di level terendah dalam 18 bulan, pertumbuhan remitansi dari Amerika Serikat dan Timur Tengah cenderung tipis atau menunjukkan tanda-tanda melambat, dan defisit transaksi berjalan justru melebar, bukan menyempit. Tekanan terus terakumulasi, meski kapasitas pembiayaan belum menjadi masalah.


Apa yang Bisa Membalikkan Tren USD/PHP?

Titik balik tren ini bergantung pada sejumlah kondisi, bukan pada level harga tertentu. Berikut hal-hal yang perlu dicermati:


  • Pelemahan harga minyak mentah yang berkelanjutan, bukan sekadar penurunan sesaat, yang akan mengecilkan tagihan impor bulanan

  • Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau nada yang lebih dovish dari The Fed setelah pertemuan September

  • Pelemahan dolar AS secara luas terhadap mata uang Asia, yang akan meredakan tekanan di seluruh kawasan

  • Disinflasi lebih lanjut pada indeks harga konsumen (IHK) Filipina, dengan data Agustus yang dijadwalkan rilis pada 4 September

  • Perbaikan pada data neraca pembayaran dan cadangan devisa bulanan

  • Pengetatan tambahan oleh BSP, atau panduan yang lebih tegas bahwa siklus pengetatan belum berakhir

  • Bukti bahwa intervensi mampu meredam pergerakan yang tidak teratur, bukan sekadar memperlambat tren pelemahan


Para analis tidak memperkirakan akan terjadi keruntuhan. MUFG telah menggeser proyeksi USD/PHP menjadi sekitar 62,20 untuk kuartal III dan 62,00 untuk kuartal IV, melandai menuju 61,00 pada semester pertama 2027, dengan asumsi masih ada satu kali kenaikan suku bunga BSP dan defisit perdagangan yang menyempit secara bertahap. 


John Paolo Rivera, senior fellow di PIDS, menyebut level 63 sebagai ujian yang mungkin terjadi dalam waktu dekat, meski ia menegaskan itu hanya level psikologis, bukan pemicu kebijakan.


Untuk saat ini, tekanan yang dihadapi peso lebih luas dari sekadar persoalan suku bunga. Selama harga minyak belum stabil dan neraca eksternal belum membaik, beban stabilisasi nilai tukar berada di tangan faktor-faktor yang berada di luar kendali BSP.


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa Peso Filipina Melemah pada 2026?

Tingginya harga minyak, defisit transaksi berjalan yang melebar, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, serta inflasi yang berada di atas suku bunga acuan, semuanya menggerus imbal hasil riil peso.


Berapa Level Terendah Rekor Peso Filipina terhadap Dolar AS?

Pasar spot internasional mencatat rekor 62,652 per dolar AS pada 2 September 2026. Di pasar domestik, peso sempat melemah hingga 62,69 dan ditutup di level terlemah sepanjang masa 62,565 pada hari yang sama.


Apakah Kenaikan Suku Bunga BSP Bisa Menguatkan Peso Filipina?

Kenaikan suku bunga bisa membantu, tetapi hanya jika imbal hasil riil yang dihasilkan mampu bersaing dengan aset berdenominasi dolar dan defisit eksternal menyempit. Tiga kali kenaikan suku bunga sejak April terbukti belum cukup untuk mencapai hal itu.

Penafian: Materi ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai (serta tidak boleh dianggap sebagai) nasihat keuangan, investasi, atau bentuk nasihat lainnya yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Pendapat apa pun yang disampaikan dalam materi ini tidak merupakan rekomendasi dari EBC atau penulis bahwa investasi, instrumen, transaksi, atau strategi investasi tertentu sesuai untuk individu tertentu.